Lentera di Tengah Kabut

 Oleh: [+sosmed]



Di sebuah dusun kecil yang tersembunyi di lereng gunung, hiduplah seorang pemuda bernama Kalam. Usianya baru menginjak dua puluh tiga tahun, tetapi jiwanya telah lelah oleh seribu tanya. Ia tumbuh di tengah keluarga yang taat beragama, namun hatinya selalu dihantui oleh satu pertanyaan besar: "Apa sebenarnya kebenaran itu?"

Sejak kecil, Kalam dikenal sebagai pemuda yang cerdas dan kritis. Ia tidak pernah menerima sesuatu begitu saja tanpa memahami akarnya. Gurunya di pesantren dulu sering berkata, "Kalam ini lain dari yang lain. Ia tidak puas hanya dengan kulit, ia ingin sampai ke inti."

Namun justru kecerdasan itulah yang kini membelenggunya dalam kabut keraguan.

Empat bulan telah berlalu sejak Kalam meninggalkan pesantren. Ia memutuskan untuk 'cuti' dari segala aktivitas keagamaan yang selama ini ia jalani secara rutin. Bukan karena ia membenci agama, tetapi karena ia ingin menemukan sendiri kebenaran yang selama ini hanya ia terima sebagai warisan.

"Bagaimana aku bisa yakin bahwa semua ini benar?" gumamnya suatu malam, memandang bulan yang menggantung kesepian di langit. "Orangtuaku bilang ini benar, guruku bilang itu benar. Tapi kebenaran siapa yang harus aku ikuti?"

Keraguan itu merambat seperti sulur tanaman liar. Ia mulai malas salat. Jika pun salat, hanya gerakan tanpa makna. Al-Qur'an yang dulu selalu setia di genggamannya kini hanya menjadi hiasan di rak buku, berdebu dan tak tersentuh.

Ibunya, Fatimah, seorang wanita paruh baya dengan sorot mata yang teduh, menyadari perubahan itu. Namun ia tidak pernah menggurui atau memaksa. Ia hanya terus mendoakan dan sesekali menanyakan kabar dengan lembut.

"Kalam, kau baik-baik saja, Nak?" tanya Fatimah suatu pagi saat Kalam duduk termenung di beranda.

"Aku baik, Bu. Hanya sedang berpikir," jawab Kalam singkat.

Fatimah menghela napas pelan. Ia tahu anaknya sedang berperang dengan pikirannya sendiri. Ia pun berjalan perlahan masuk ke dalam rumah, mengambil sesuatu, lalu kembali lagi.

"Ini punya ibu sejak menikah dengan ayahmu," kata Fatimah sambil meletakkan sebuah Al-Qur'an tua bersampul kulit coklat di pangkuan Kalam. "Ayahmu memberikannya sebagai mahar. Mungkin kau bisa membacanya lagi. Tidak perlu semua, cukup satu ayat saja."

Kalam menatap Al-Qur'an itu. Sampulnya sudah usang, beberapa halamannya menguning, tapi jelas terlihat dijaga dengan penuh cinta. Ia membuka lembaran pertama dan matanya jatuh pada Surah Al-Baqarah ayat 2:

"Kitab (Al-Qur'an) ini tidak ada keraguan di dalamnya; (ia merupakan) petunjuk bagi orang-orang yang bertakwa."


Malam itu, Kalam tidak bisa tidur. Ayat pendek itu terus berputar di kepalanya.

"Tidak ada keraguan di dalamnya," bisiknya dalam gelap. "Tapi bukankah aku justru penuh keraguan?"

Keesokan harinya, untuk pertama kalinya setelah berbulan-bulan, Kalam mengambil wudhu dengan kesadaran penuh. Air dingin membasahi wajahnya, terasa menyegarkan. Ia lalu membuka kembali Al-Qur'an pemberian ibunya.

Lagi-lagi, ayat yang sama. Seperti menariknya untuk merenung lebih dalam.

"Petunjuk bagi orang-orang yang bertakwa."

Kalam terdiam. Ia ingat pelajaran di pesantren dulu. Guru ngajinya pernah menjelaskan bahwa kata 'bertakwa' berasal dari kata ittaqa yang berarti memelihara atau melindungi. Orang bertakwa adalah mereka yang memelihara dirinya dari murka Allah dengan cara menjalankan perintah-Nya dan menjauhi larangan-Nya.

"Tapi bagaimana aku bisa menjalankan perintah jika aku masih ragu?" tanyanya dalam hati.

Hari-hari berikutnya, Kalam memulai petualangan barunya. Ia tidak lagi hanya membaca Al-Qur'an, tetapi ia mulai 'berdialog' dengannya. Ia membaca tafsir, ia membaca kisah-kisah para ulama, ia membaca buku-buku filsafat dan perbandingan agama. Ia ingin menguji klaim Al-Qur'an bahwa ia bebas dari keraguan.

Semakin ia membaca, semakin ia menemukan sesuatu yang aneh. Bukan jawaban instan yang ia dapatkan, melainkan ketenangan yang perlahan merambat masuk ke dalam relung hatinya.

Pada suatu malam Jumat, Kalam duduk di beranda memandangi langit bertabur bintang. Angin malam berhembus sejuk, membawa aroma tanah basah dari sawah-sawah di kejauhan. Tiba-tiba, tanpa diduga, butir-butir air mata jatuh dari matanya.

Ia menangis. Bukan karena sedih, tetapi karena sesuatu yang sulit ia jelaskan.

Selama ini ia mencari kebenaran dengan logika semata, seolah-olah iman adalah rumus matematika yang harus terbukti. Ia lupa bahwa hati punya bahasanya sendiri. Al-Qur'an adalah petunjuk bagi mereka yang bertakwa, bagi mereka yang membuka diri, bukan hanya bagi mereka yang pintar berdebat.

Keesokan harinya, Kalam pergi ke makam ayahnya yang telah tiada sejak ia kelas tiga SD. Ia duduk di samping nisan sederhana itu.

"Maafkan aku, Yah," bisiknya. "Aku hampir tersesat. Tapi sekarang aku mulai mengerti. Bukan karena aku menemukan semua jawaban, tapi karena aku belajar untuk percaya pada Petunjuk yang tak pernah salah."

Malam harinya, Kalam menemui ibunya yang sedang menjahit di ruang tengah.

"Bu, terima kasih untuk Al-Qur'an itu," katanya lirih.

Fatimah menghentikan jahitannya dan menatap anaknya. Matanya berkaca-kaca melihat perubahan di wajah Kalam. Bukan perubahan fisik, tetapi ada cahaya yang mulai muncul kembali di matanya, cahaya yang sempat padam beberapa bulan lalu.

"Ibu tahu kau sedang mencari, Nak," jawab Fatimah lembut. "Ibu juga pernah melewati masa itu. Tapi ingatlah, Al-Qur'an bukan buku biasa. Ia adalah lentera. Dan lentera tidak akan menerangi jika tidak kau nyalakan dengan keikhlasan."

Kalam tersenyum. Ia teringat kembali pelajaran lama yang kini terasa baru. Bahwa petunjuk itu bukan hanya untuk dibaca, tetapi untuk dihidupi. Dan hidup itu sendiri adalah proses terus-menerus untuk menjadi orang yang bertakwa, yaitu mereka yang memelihara hubungan dengan Allah, dengan sesama, dan dengan dirinya sendiri.

Tiga tahun kemudian, Kalam telah menjadi seorang guru ngaji di dusunnya. Bukan guru yang menggurui, tetapi guru yang mengajak murid-muridnya untuk merenung, sama seperti ia dulu merenung.

Pada suatu kesempatan, seorang muridnya bertanya, "Pak Kalam, bagaimana cara agar kita yakin bahwa Al-Qur'an ini benar-benar dari Allah?"

Kalam tersenyum. Ia membuka Al-Qur'an tua pemberian ibunya yang selalu ia bawa ke mana pun. Lembaran pertama, Surah Al-Baqarah ayat 2.

"Nak, lihat ayat ini," katanya. "Allah sendiri yang menjamin bahwa tidak ada keraguan di dalamnya. Tapi untuk merasakan kebenaran itu, kau harus terlebih dahulu menjadi orang yang bertakwa. Bukan karena kau ragu lalu kau menjauh, tapi karena kau ingin yakin maka kau mendekat."

Sang murid mengangguk, meski belum sepenuhnya mengerti. Tapi Kalam tahu, suatu hari nanti ia akan mengerti. Sama seperti ia dulu, yang akhirnya mengerti setelah melalui perjalanan panjang dalam kabut keraguan.

Al-Qur'an tetaplah lentera. Tapi lentera hanya akan bercahaya bagi mereka yang membuka mata, membersihkan hati, dan bersedia melangkah dalam petunjuk-Nya.

"Kitab ini tidak ada keraguan di dalamnya; ia merupakan petunjuk bagi orang-orang yang bertakwa."

Kalam menutup Al-Qur'an-nya, memandang keluar jendela, dan tersenyum pada dunia yang penuh tanda-tanda kebesaran-Nya. Perjalanannya belum usai, tetapi ia kini tahu arah. Dan itu sudah lebih dari cukup untuk memulai.


[TAMAT]


Comments

Popular posts from this blog

Musikalisasi Puisi Chairil Anwar- AKU

Luka yang Menjadi Pintu: Sebuah Kisah tentang Cahaya di Balik Patah & Retak

"The wound is the place where the Light enters you"