Toko Benih Kehidupan



Seorang wanita bermimpi masuk ke sebuah toko, dan terkejut, menemukan Tuhan di belakang toko.

"Engkau menjual apa di sini?" ia bertanya.

"Apa saja yang menjadi keinginanmu," kata Tuhan.

Hampir tak berani percaya apa yang didengarnya, wanita itu memutuskan minta hal-hal paling baik, yang dapat diinginkan seorang  manusia.

"Aku minta ketenteraman hati, cinta, bahagia, bijaksana dan bebas dari sakit,"  katanya,  kemudian ia menambahkan,  "Tidak hanya untuk saya. Untuk semua orang di dunia!"

Tuhan tersenyum.

"Kukira, engkau menafsirkan aku salah, nak,"  kata-Nya. "Kami tidak menjual buah di sini. Hanya benih."
Wanita itu tertegun. Kata-kata itu menggema di dalam relung hatinya, membangkitkan sesuatu yang samar-samar namun mendasar. Ia menatap Tuhan, yang berdiri dengan tenang di balik meja kayu tua yang penuh dengan wadah-wadah kecil, amplop-amplop cokelat, dan kantong-kantong kain. Toko itu luas, jauh lebih luas dari yang terlihat dari luar. Rak-rak kayu menjulang tinggi hingga ke langit-langit yang tak tampak batasnya, masing-masing dipenuhi dengan ribuan bungkus benih yang berkilauan redup, seolah menyimpan cahayanya sendiri.

"Benih?" ulang wanita itu, suaranya hampir berbisik.

"Benih," jawab Tuhan lembut, sambil mengelus salah satu kantong kain di depannya. "Apa yang kau sebut 'buah' tadi—ketenteraman hati, cinta, kebahagiaan—itu semua adalah pohon yang tumbuh dari tanah kehidupan. Akarnya harus mencengkeram kuat di dalam dirimu, batangnya harus menahan badai, dan daunnya harus menyerap cahaya. Di sini, aku hanya menyediakan awal dari segalanya."

Wanita itu berjalan perlahan menyusuri lorong pertama. Matanya tertuju pada sebuah toples kaca kecil berisi butiran-butiran keemasan. Pada labelnya, tertulis dengan tinta emas yang berkilauan: "KESABARAN". Di sampingnya, ada kantong linen abu-abu berisi benih yang lebih gelap, hampir hitam, dengan label: "KETEGUHAN HATI". Ia terus berjalan, melewati rak-rak yang penuh dengan nama-nama yang familiar namun terasa begitu baru: "PENGAMPUNAN", "KEPEDULIAN", "KEMURAHAN HATI", "KEMAMPUAN UNTUK MENDENGARKAN". Ada juga yang lebih kecil, hampir tersembunyi, seperti "KEINGINAN UNTUK BANGUN PAGI" dan "KECENDERUNGAN UNTUK TERSENYUM PADA ORANG ASING".

Ia berhenti di depan rak yang sangat tinggi. Di bagian paling atas, nyaris tak terjangkau, ada sebuah wadah kristal yang memancarkan cahaya hangat. Benih di dalamnya tampak seperti percikan-percikan kecil pelangi. Labelnya bertuliskan: "CINTA TANPA SYARAT". Wanita itu menghela napas. Ia lalu berbalik dan kembali menghampiri Tuhan.

"Jadi," katanya, berusaha mencerna semuanya, "ketenteraman hati... itu bukan sesuatu yang bisa kau berikan begitu saja padaku?"

Tuhan menggeleng, senyum-Nya masih terukir, penuh pengertian. "Ketenteraman adalah buah dari pohon yang kau tanam sendiri dari benih 'PENERIMAAN' dan 'KEYAKINAN'. Kau harus menyiramnya setiap hari dengan kesadaran bahwa tidak semua hal dalam hidup ini harus kau pahami atau kau kendalikan."

"Lalu... cinta?"

"Cinta sejati," kata Tuhan, mengambil sebuah kantong kecil berwarna merah muda pucat dari rak terdekat, "tumbuh dari benih 'KERENTANAN'. Kau harus berani menanamnya di tanah hatimu yang paling terbuka, meskipun ada risiko diinjak atau diterjang badai. Banyak orang menginginkan buah cinta, tapi takut menanam benihnya karena takut terluka."

Wanita itu merasa ada simpul di tenggorokannya. Ia memikirkan semua keinginannya tadi—kebahagiaan, kebijaksanaan, bebas dari sakit. Semua itu kini tampak seperti lukisan indah di dinding, sementara ia baru menyadari bahwa di toko ini ia hanya bisa membeli kanvas kosong, kuas, dan cat. Hasil akhirnya tergantung pada bagaimana ia melukis.

"Aku ingin bertanya," katanya pelan. "Aku minta semua itu untuk semua orang di dunia. Apakah ada benih yang cukup?"

Tuhan tertawa kecil, tawa yang terdengar seperti gemerisik dedaunan tertiup angin. "Nak, benih tidak pernah habis. Setiap kali seseorang menanam satu benih 'KASIH', sepuluh benih baru muncul di sini. Setiap kali seseorang menuai buah 'KEBIJAKSANAAN' dari pohon 'RASA INGIN TAHU' yang ia rawat, ribuan benih baru bertebaran. Toko ini tidak pernah kekurangan stok. Yang langka adalah tanah yang subur dan tukang kebun yang sabar."

Wanita itu berjalan kembali ke rak paling depan, tempat benih-benih yang paling sederhana tertata. Ada "KESEDIAAN UNTUK MEMULAI LAGI", "KEBERANIAN UNTUK MENGATAKAN MAAF", "KEMAMPUAN UNTUK MELIHAT KEBAIKAN". Ia mengambil satu kantong kecil berlabel "KEINGINAN UNTUK BERDOA".

"Berapa harganya?" tanyanya.

Tuhan menatapnya dengan mata yang dalam seperti samudra. "Semuanya sudah lunas," jawab-Nya. "Yang kaubutuhkan hanyalah kemauan untuk pulang, mengolah tanah hatimu, menanamnya, dan merawatnya. Terkadang kau akan lupa menyiramnya. Terkadang hama keputusasaan akan datang. Terkadang musim kemarau yang panjang akan membuatmu ragu apakah benih itu masih hidup. Tapi percayalah, selama ada niat, selalu ada musim semi."

Wanita itu menggenggam erat kantong benih di tangannya. Ia bisa merasakan kehangatan kecil memancar darinya, seolah benih itu sudah tahu bahwa ia akan pulang ke rumah. Ia lalu melihat sekeliling toko itu sekali lagi, sekarang dengan cara pandang yang berbeda. Ia tidak lagi melihat rak-rak yang penuh dengan harapan instan, melainkan sebuah perpustakaan kehidupan, sebuah gudang kemungkinan.

"Terima kasih," bisiknya.

Tuhan mengangguk. "Sekarang pergilah. Tamanmu menunggumu. Dan ingat, nak, kau tidak sendirian. Semua tukang kebun di dunia ini sedang bekerja. Terkadang, benihmu akan tumbuh subur karena disiram oleh air mata tetanggamu. Terkadang, pohonmu akan memberikan naungan bagi orang yang tak kau kenal. Itulah keajaiban berkebun bersama."

Saat wanita itu melangkah menuju pintu, ia menoleh ke belakang. Toko itu tampak biasa saja, sebuah toko kecil di pinggir jalan dengan papan nama yang sederhana. Namun ia tahu, di dalamnya tersimpan rahasia terbesar alam semesta: bahwa Tuhan tidak pernah memberikan kita buah jadi, melainkan kesempatan untuk menanam, merawat, dan menuai dengan tangan kita sendiri. Bahwa setiap dari kita adalah pekebun di ladang kehidupannya, dan benih terbaik adalah yang kita tanam hari ini untuk dinikmati esok hari—bukan hanya oleh kita, tetapi oleh seluruh dunia.

Ia melangkah keluar, dan di baliknya, pintu toko tertutup dengan lembut. Di tangannya, benih itu berdenyut lembut, menanti untuk menyentuh tanah. Dan untuk pertama kalinya, wanita itu mengerti: kebahagiaan bukanlah tujuan akhir, melainkan proses pertumbuhan yang tak pernah usai.

Comments

Popular posts from this blog

Musikalisasi Puisi Chairil Anwar- AKU

Luka yang Menjadi Pintu: Sebuah Kisah tentang Cahaya di Balik Patah & Retak